News Update :

R&D di IKM Perlu Dikembangkan

Direktur Jenderal  Industri Kecil dan menengah (IKM) Dra. Euis Saedah, MSc ,yang tampil  sebagai pembicara utama (keynote speaker) pada acara Peer Discussion tersebut, menyampaikan bahwa yang menjadi hambatan perkembangan IKM jika ditinjau dari sisi keinsinyuran adalah tidak adanya R&D yang diterapkan di IKM sehingga sulit untuk berkembang.  Disamping itu penerapan proses engineering & operasional juga diperlukan agar hasil industri dapat bersaing di pasar global.
Ada 5 hal pokok yang menjadi pembahasan Dirjen IKM,  dalam paparannya yang berjudul “Regulasi Tentang IKM”, yakni ; Visi Pembangunan Industri, Kinerja Sektor Industri, Sasaran dan Program Pengembangan Industri tahun 2013, Sinergi Program Pengembangan Industri antara Pusat dan Daerah, dan Peran IKM Terhadap PDB.

Visi Pembangunan Industri berdasarkan Perpres No. 28 tahun 2008 adalah menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh di dunia pada 2025. Sasaran jangka menengah tahun 2014 adalah pemantapan daya saing berbasis industri manufaktur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar industri andalan masa depan.

Arah kebijakan umum pembangunan industri menurut Euis Saedah, difokuskan kepada 4 sasaran yaitu; Pertumbuhan Industri  melalui pengembangan dan penguatan 35 klaster industri prioritas (pro growth), Pemerataan Industri  melalui pengembangan dan penguatan industri kecil dan menengah (pro growth dan pro job),  Persebaran Industri  melalui pengembangan industri unggulan di 33 provinsi dan Kompetensi Inti Industri Kabupaten/Kota (pro job dan pro poor), dan Menjaga Keseimbangan Lingkungan melalui pengembangan industri hijau (pro environment).

Untuk kinerja sektor Industri, saat ini pertumbuhan industri non migas berdasarkan cabang cabang industri, ada 4 pertumbuhan yang agak menonjol yakni ; (1). industri kayu dan hasil hutan, (2). Pupuk kimia dan barang karet, (3). Logam dasar, Besi & Baja, dan (4). Alat Angkut, Mesin dan peralatannya.

Sedangkan kontribusi industri pengolahan non migas terhadap PDB Nasional, industri non migas adalah penyumbang paling besar yaitu 20,61% dari 10 sektor penyumbang PDB Nasional untuk triwulan pertama 2013.

Pada Sessi paparan para pembicara Peer Discussion Group VIII BKM-PII, sessi pertama tampil Direktur Bisnis LPDB, KUMKM,  Warso Widanarto, dengan topik bahasan ; “Dana Bergulir LPDB-KUMKM Sebagai Alternatif Pembiayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM)”. Pembicara kedua menampilkan Advisor KUMKM, Mr. Byung Chang Joen, dengan topik bahasan “Model Pembinaan IKM di Korea Selatan”. Bertindak sebagai Moderator Ir. Bambang Purwohadi, MSi, MT.

Untuk sessi ke-2 Peer Discussion VIII BKM, dengan di moderatori oleh Dr. Ir. M Kosasih (dari KIKO), pembicara yang tampil adalah ; Ir. Anang Tjahjono, MT (Direktur Pembinaan SKM), dengan topik bahasan, “Kualitas Lulusan SMK untuk IKM”., Yan Burhanuddin (Praktisi IKM), dengan topik, “Membangun manusia Produktif di era Global”., dan pembicara ke- tiga adalah Dr. Ir. Krishnahadi Pribadi (ketua Dewan Pakar BKM-PII), dengan topik bahasan, “Menciptakan IKM berbasis teknologi Tinggi”.

Mr. Byung Chang Jeon  dalam paparannya menjelaskan,  Korea Selatan  memproduksi mobil  dan alat mesin  produksi berbagai negara di dunia, memiliki berbagai jenis organisasi pendukung baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah seperti KATECH, KITECH, KIMM / KIMS, KAP, Cluster Otomotif Daerah dan pusat teknologi  strategis dan regional , Diesel, Teknologi Hijau., kendaraan Komersial  dan Machine Tools.

Dalam mengatur fasilitas ini seluruh negara, UKM Korea bisa mendapatkan layanan yang diperlukan seperti informasi pasar / teknologi, pendidikan pelatihan, dukungan R&D Pemerintah. 

Sementara itu Yan Burhanuddin yang tampil pada sessi terakhir menyampaikan paparan bahwa  dalam membangun manusia produktif diperlukan perubahan dari berbagai segi, atara lain perubahan budaya agraris ke industri dan perubahan dari budaya lokal menuju global.

Untuk membangun manusia produktif, Yan Burhanuddin mengatakan, bahwa kita perlu menerapkan beberapa prisip prinsip dalam bekerja antara lain; melaksanakan etos kerja yang produktif, belajar dan berfikir, manajemen panca indra, dan melakukan  3 hal yang positif (mulai diri sendiri, hal hal kecil dan mulai sekarang).

Sebaliknya dalam bekerjapun kita harus menghindari hal hal yang tidak baik seperti ; Muda / Mubazir (melakukan, menyimpan hal yang tidak berguna), Mura  (membebani peralatan / orang secara  berlebihan, dan Muri (bekerja tidak seimbang, timpang /unbalance).

Diakhir paparannya Yan memberikan contoh perumpamaan bagaimana sebaiknya kita dalam usaha mencapai kesuksesan dalam bekerja di era globalisasi, ibarat kita berjalan di eskalator, agar lebih cepat sampai kita harus tetap melangkah, sekalipun eskalator itu sudah jalan menghantarkan kita ke tujuan. Artinya kita harus melakukan sesuatu pekerjaan lebih baik lagi dari yang sudah baik. (yesso)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.