News Update :

Penganugerahan PII Award 2010 : Membangun Kembali Kemampuan Engineering Nasional

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) kembali menganugerahkan “PII Award” kepada  beberapa individu dan Institusi. Tahun ini PII Award 2010 dianugerahkan kepada 7 Institusi dan 13 perorangan yang dinilai berprestasi di bidang teknologi dan perekayasaan di Indonesia.  Hal ini merupakan penghargaan tertinggi dari Persatuan Insinyur Indonesia yang diberikan sejak tahun 1990 kepada putra-putri bangsa yang berprestasi.

Penghargaan PII Award 2010 diberikan kepada individu dan industri berprestasi dalam bidang teknologi dan rekayasa. Penghargaan diberikan dalam lima kategori yaitu : Life Time Achievement Award, Engineering Award, Sustainable Engineering Award, Coorporate Technology Achievement Award dan Adhiwarta Rekayasa Award. Untuk kategori Lifetime achievement Award diberikan kepada Wiratman  Wangsadinata dan GM Tampubolon.

Untuk kategori Engineering Award yang terdiri dari : Adhidharma Profesi,  diraih oleh  Sriani Sujiprihati, Bambang Wydiyatmoko, L.T.Handoko, kemudian untuk kategori Adhicipta Rekayasa Individu, diberikan pada  Ratno Nuryadi, Dasep Ahmadi, Andreas W Yunardi, Johanes Adi P, Samudra Prasetio. Selanjutnya kategori  Adhicipta Rekayasa Perusahaan diberikan  kepada Pusat Teknologi Industri Proses BPPT, PT.Krakatau Steel, PT.Industri Kereta Api. Untuk Adhikara Rekayasa Individu diberikan kepada Wiratman Wangsadinata, Terip Karo Karo, dan untuk  Adhikara Rekayasa Perusahaan diraih oleh  PT.Wijaya Karya., serta Adhicipta Pratama  oleh Ahmad Agus Setiawan, Johnny Setiawan.

Sedangkan kategori Sustainable Engineering Award Individu diberikan Nuryanto dan kategori Sustainable Engineering Award Perusahaan diberikan kepada PT Pembangunan Perumahan, PT.Pasadena Engineering Indonesia.

Sementara itu, kategori Coorporate Technology Achievement Award di raih oleh  PT.Industri Kereta Api dan terakhir, kategori Adhiwarta Rekayasa diberikan kepada Redaktur Senior Kompas Ninok Leksono.

Acara penganugerahan yang dihadiri para insan pegiat ilmu mewakili seluruh nusantara,  di gelar di Auditorium Gedung BPPT, Jakarta, Rabu 22 Desember 2010 dengan  tema : “Membangun Kembali Kemampuan Engineering Nasional”, berupa pidato  Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie.
Saat memberikan pidatonya, BJ Habibie mengatakan, hampir semua pusat perbelanjaan di Indonesia dipenuhi barang-barang luar negeri. Hal itu berarti rakyat Indonesia harus membayar ongkos pekerja luar negeri untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari”,katanya.

Tersisihnya produk dalam negeri menciptakan defisit jam kerja antara pekerja di Tanah Air dan di luar negeri. Ironisnya, kondisi itu terjadi saat banyak masyarakat Indonesia mengeluhkan kecilnya lapangan kerja dan naiknya pengangguran.

”Membeli produk buatan dalam negeri itu sama dengan mengamankan lapangan kerja serta menjamin pemerataan dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Defisit jam kerja itu dapat diatasi dengan meningkatkan daya saing industri manufaktur melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan teknologi. Langkah ini membutuhkan perencanaan jangka panjang yang konsisten serta produk hukum yang melindungi industri dan mengamankan pasar dalam negeri.

Dalam kesempatan sambutannya, Menteri Koordinator Perekonomian M Hatta Rajasa mengatakan, bidang rekayasa (engineering) Indonesia mengalami perkembangan pesat pada era 1980-an. Kini, potensi perekayasa Indonesia harus dibangkitkan kembali agar bisa memberi nilai tambah hingga mampu bersaing secara global. Peningkatan daya saing industri manufaktur harus ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai. Namun, hal ini masih sulit karena hanya ada 16.435 insinyur per Mei 2010 dari 237 juta rakyat Indonesia atau 0,006 persen”'ujarnya.

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.