News Update :

Peer Discussion II : Pemanfaatan Energi Masa Depan Untuk Nusantara dan Dunia

Badan Kejuruan Mesin pada tanggal 17 Januari 2012 bertempat di Gedung Utama Pertamina, menyelenggarkan program diskusi bulanan yaitu Peer Group Discussion ke II, dengan tema : ”Pemanfaatan Energi Masa Depan Untuk Nusantara dan Dunia”. Diskusi tersebut dihadiri sekitar 40 peserta dari ; Anggota Peer Group BKM, Pengurus Pusat BKM, Pengurus Pusat PII, pengurus BK/BKT, dari kalangan perguruan tinggi, dan dari para pakar dan praktisi permesinan.

Energi Dunia dan Nusantara 
Prof. Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjomartono, IPU, yang tampil sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa, “dari sisi pemetaan pemakaian energi di dunia yang dibagi menjadi 3 peradaban industri yang menggunakan bahan bakar yaitu : ”Peradapan Industri I, yang memanfaatkan batu bara sebagai sumber energi. Kedua adalah Peradapan Industri II, dengan pemanfaatan Minyak Bumi, dan ke tiga Peradapan Industri III, dengan mulai memanfaatkan Hydrogen yang merupakan energi hijau”.

Energi dengan mudahnya tersedia di negara maju. Energi begitu murahnya bagi negara maju, hingga masyarakatnya tidak memperhatikan secara serius tentang energi, asal - usulnya – dan pengadaannya, serta konsekwensi negatif yang ditimbulkan.

Energi dunia terutama timbul dari pembakaran bahan bakar fosil, yang menyebabkan bagian terbesar emisi rumah kaca. Pengurangan emisi gas rumah kaca berarti pengurangan pemakaian bahan bakar fosil. Keperluan energi dunia sudah mencapai lebih dari 10 giga ton ekivalen minyak bumi pada tahun 2005” .

Prof Sri Hardjoko menyampaikan bahwa; “Industri yang paling boros energi adalah transportasi, dan diikuti oleh industri penyedia energi (refinery pembangkit tenaga listrik dengan fosil fuel). Industri transportasi yang paling boros adalah kendaraan bermotor, khususnya mobil.

Industri penyedia energi dan khususnya industri pembangkit listrik perlu kita berikan perhatian lebih. Industri ini yang memungkinkan manusia mengurangi tenaganya dalam mengerjakan pekerjaan utamanya, yaitu pekerjaan demi pemenuhan hajat hidup dasar memperoleh – pangan – sandang - papan (termasuk rumah). Industri penyedia energi yang merupakan tulang punggung berjalannya industri”.

Bahan bakar minyak untuk transportasi semakin lama semakin mahal disamping akan habis sekitar 40 tahun lagi. Sebagai aternatif energi masa depan, bahan bakar dari biomass belum secara sungguh-sungguh kita kembangkan. Penggunaan gas hidrogen dapat memecahkan  sebagian besar masalah energi, selain gas hidrogen adalah gas bersih tanpa menimbulkan gas rumah kaca. Dari berbagai perangkat pembangkit listrik hanya fuel cell yang memakai hidrogen sebagai “energy carrier”. Hidrogen dapat langsung dipakai sebagai bahan bakar untuk mesin motor bakar. Fuel cells adalah alat yang mengkonversikan secara kimiawi dari suatu reactant langsung menjadi tenaga listrik dan panas. Dalam kata lain dan lebih sederhana “fuel cell adalah alat konversi energi”.

Pemakaian BBM bersubsisi di Indonesia saat ini 89% oleh kendaraan bermotor, 2% transportasi laut, 3% sektor perikanan, dan 6% rumah tangga. Besarnya subsidi dalam rupiah saat ini per tahunnya mencapai Rp. 250 trilyun.

Untuk mengurangi beban pemerintah atas subsidi, sebagai usulan dalam pemanfaatan energi ke pemerintah, perlu usulan kebijakan yaitu;

(1).  Kebijakan transportasi darat dimana ditekankan pada MRT, jaringan kereta api   doble    track.

(2).  Penyediaan sumber energi gas, jaringan pipa dan pemanfaatan hidrogen.

(3).  Peralatan pembangkit Listrik Didorong kearah langkah R&D, pemakaian alat-alat listrik , PV, kincir angin, sterling engine, water turbine, micro tubine, fuel cell. Distribusi tersebar, lampu LED dan pemakaian arus DC.

Micro-algae

Ir. Didiek Pudyabawaleksana, MT dalam paparannya di Pertamina, 17-01/12 mengatakan, titik impas pembiayaan energi tenaga surya (pv) mencapai 4o tahun; minyak bumi 2 – 3 tahun; pltn berbasis uranium 2 – 3 tahun; dan PLTN berbasis thorium atau LFTR  1 – 2 tahun.

Bagaimana halnya dengan bio-fuel?  Pertama, ujar Didiek lagi, bio-fuel berbasis tanaman darat berkompetisi dengan produksi makanan. Baik dalam hal pengadaan lahan, pupuk, sumber daya air, mineral/unsur hara, dan energi untuk memproduksinya. Produksi bio-fuel memerlukan total energi fosil lebih banyak daripada energi yang dihasilkannya, dari pembuatan pupuk, zat kimia/pestisida, hingga proses pembuatan bio-fuel.

Karena itu harga bio-fuel lebih tinggi dari harga BBM. Di Eropa dan Amerika bio-fuel dipakai dengan subsidi pemerintah untuk alasan politik (isu lingkungan) ketimbang manfaatnya.

Micro-algae adalah satu-satunya sumber bio-fuel yang viable. Sebab Indonesia mempunyai luas laut terbesar di dunia. Pertumbuhan micro-algae 100 kali lebih cepat dibanding tanaman darat (dalam 24 jam bisa tumbuh 2x).  Per hektar menghasilkan 20 kali lipat dari bio-fuel tanaman darat.

Micro-algae tidak mengambil lahan pertanian, juga tidak memerlukan air tawar. Tidak memerlukan pupuk. Tidak berkompetisi dengan produksi makanan, bahkan membantu. Sebab limbah produknya kaya dengan protein sehingga dapat dipakai untuk pupuk dan makanan ternak. Nutrisinya dari air-laut, bahkan dapt menjadi sumber mineral bagi tanaman darat.

“Kebijakan Teknologi terletak pada inti tantangan perubahan Iklim," kata Ir. Didiek, mengutip Prof. Jeffrey Sachs,  Director of The Earth Institute dari Columbia University.  Jeffrey Sachs juga mengatakan, ”Mengendalikan emisi tanpa teknologi yang benar-benar baru akan mencekik pertumbuhan ekonomi, termasuk prospek pengembangan untuk miliaran orang.

Maka AS, Eropa, dan Jepang perlu segera memulai semua inovasi teknologi ini. Teknologi-teknologi rendah emisi yang dikembangkan di negara kaya perlu segera diadopsi di negara yang lebih miskin.”

Thorium Reactor

PLTN berbasis thorium adalah satu-satunya energi alternatif untuk menggantikan sumber fosil. Jumlah cadangan Thorium di bumi 10x lebih banyak dibanding uranium. Cukup banyak thorium untuk 1000 tahun dengan pemakaian energi 10x lebih banyak dibanding sekarang.

Liquid Fluoride Thorium Reactor (LFTR) adalah reaktor generasi ke-4 yang sangat aman secara intrinsik dan dapat diproduksi dengan murah dan cepat.  Reaktor Modular kecil berkapasitas 100MW dapat dipasang di mana saja, dan tidak memerlukan banyak lahan (konsep pembangkit listrik tersebar). Cukup dengan diameter 2m, tinggi 3 m, dan tahan gempa.

Praktis tidak menghasilkan limbah nuklir. Tidak menghasilkan Plutonium, tidak dapat dipakai untuk membuat senjata nuklir. Thorium tidak meledak seperti uranium.

Stirling Engine

Pembicara ke tiga yang tampil adalah Ir Michel H. Mercado, dari Inno Renergy. Topik presentasi yang disampaikan adadah : “Mesin Tenaga Panas” (Stirling Engine), yang dikembangkan oleh Inno Renergy

Stirling Engine pertama kali dipatenkan oleh rev. Robert Stirling tahun 1816. Tahun 1871 Gustaf Schmidt mempublikasikan model siklus Stirling.

Mesin Stirling merupakan mesin pembakaran eksternal dengan siklus tertutup. Mesin Stirling kembali mendapat perhatian dunia dengan pemanfaatan energi terbarukan.
Mesin Stirling di Indonesia, pengembangan oleh segelintir  pribadi dan inovator rumahan. Ketertarikan masyarakat cukup baik. Sejak tahun 2010 di Indonesia mulai dikembangkan  mesin Stirling yang serius, Mesin Tenaga Panas MTP-01. (Yesso/Dedy)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.