News Update :

Kebangkitan Pabrikasi dan Jasa Konstruksi untuk Sistem Logistik Nasional

Indonesia memiliki global competitiveness yang tidak terlalu baik dibandingkan negara tetangga. Sislognas perlu didukung oleh sarana, prasarana dan penunjang. Kebutuhan pembangunan prasarana dalam rangka sislognas mencapai 799 triliun rupiah. Pertumbuhan ekonomi dan industry non migas 2011 – 2014 rata2 sekitar 6-7%. Ownership EPC national saat ini mencapai 65%. Peluang insinyur Indonesia untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan industry besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, restrukturisasi mesin dan peralatan, promosi dan investasi industry komponen, pengembangan kawasan khusus indstri perkapalan di daerah potensial, memperkuat kolaborasi antara indstri galangan kapal dan industry komponen, peningkatan kemampuan SDM di industry komponen kapal, pengembangan industry bahan baku dan penunjang, penerapan standard dan pembentukan lab uji SNI Wajib (komponen kapal), Pengembangan Kemampuan Desain Produk dan R&D.  (Membangkitkan Kemandirian Industri Untuk Mendukung Sistem Logistik Nasional, Dirjen Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Ir. Agus Tjahana Wirakusumah MSc)

Potensi sumber daya alam yang melimpah di laut merupakan asset yang perlu diusahakan bagi kepentingan nasional. Jumlah pulau sekitar 17,500 pulau, luas wilayah laut  5.8 juta KM2, panjang pantai mecapai 95.181 KM. 80% industry dan 75% kota besar berada di wilayah pesisir, 70% cekungan migas Indonesia berada di laut, cadangan minyak bumi 9,1 miliar Barel berada di laut dan sebagian besar obyek wisata Indonesia berhubungan dengan laut, pesisir dan pulau pulau kecil. Untuk dapat mengusahakan potensi sumber daya alam tersebut maka diperlukan penguatan Pilar Ekonomi Kelautan yang meliputi Transportasi Laut, Bangunan Laut, Jasa Kelautan, Industri Maritim, Wisata Bahari, Perikanan, Energi Sumber Daya Mineral dan Bioteknologi Kelautan. Untuk memperkuat Industri Maritim maka diperlukan langkah untuk memperkuat galangan kapal, pengadaan dan pembuatan suku cadang, peralatan kapal dan/atau perawatan kapal. Kapasitas Reparasi Industri Galangan Kapal saat ini adalah +/- 1.200.000 DWT/thn dgn utilisasi 85% dan Kapasitas Bangunan Baru Industri Kapal adalah +/- 9.00.000 DWT/thn dgn utilisasi +/-35%.  Potensi pengembangan Industri Galangan Kapal meliputi Kebutuhan Pasar Dalam Negeri, SDM Maritim dan Dukungan Inpres No.2 ttg Program Peningkatan Penggunaan Dalam Negeri. Permasalahan meliputi Rendahnya Insentif dan dukungan pembiayaan, rendahnya iklim usaha industry galangan kapal seperti perpajakan, tariff bea masuk bahan baku dan komponen; belum adanya regulasi terkait tata kelola lahan khusus untuk galangan; kondisi infrastruktur yang buruk, rendahnya kedalaman kolam di beberapa pelabuhan. Upaya perbaikan Industri Galangan Kapal meliputi: optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri, pemgembangan industry pendukung galangan kapal, peningkatan kemapuan SDM, peningkatan penguasaan teknologi, pengembangan kawasan khusus indutri galangan kapal, kerjasama dengan industry galangan kapal di luar negeri dan perbaikan iklim usaha dan insentif perpajakan dan tariff (Kebijakan Galangan Kapal Indonesia Menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Sekretaris Jenderal KKP, Prof. Ir. Sjarief Widjaja Ph.D).

Kebanyakan galangan kapal nasional adalah galangan kapal kecil. Tantangan galangan kapal nasional yang meliputi pendanaan untuk innvestasi dan modal kerja, PP no 38/2003 ttg kebijakan Insentif/Pembebasan PPN 10% (impor kapal dan penyerahann kapal) dan kebijakan penetapan tariff Bea Masuk Kapal 0% (PMK No. 213/PMK.011.2011) mendistorsi produksi galan kapal nasional, ketergantungan impor komponen kapak yang relative tinggi (70%) dan kebijakan impor kapal bukan baru/bekas. Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukan beberapa langkah berikut : Harmonisasi kebijakan dan peraturan, dukungan pendanaan, peningkatan kapasitas dan kompetensi QCDS, peluang dan kepercayaan pasar. (Potensi Industri Perkapalan dan Lepas Pantai Untuk Mendukung Sistem Logistik Nasional, IPERINDO, Ir. Novirman Said).

Dari ringkasan berbagai makalah diatas dapat disimpulkan permasalahan dan solusi industri galangan kapal nasional:

Permasalahan ;

1.    Financial meliputi investasi, pajak dan tariff
2.    Kebijakan Impor Kapal Bekas
3.    Kesiapan SDM
4.     Industri Penunjang / Komponen Kapal.
Solusi :

1.     Memberikan insentif/aturan yang mendukung pendanaan galangan kapal
2.    Harmonisasi aturan pemerintah untuk menunjang industri maritime
3.    Peningkatan kemampuan SDM di industry galangan dan komponen kapal
4.    Memperkuat kolaborasi antara industri galangan kapal dan industry komponen, investasi pada industry komponen
5.    Memperkuat kolaborasi antara PII, Akademisi, Birokasi, Bisnis/Industri untuk membangun Sistem Logistik Nasional yang berbasis kemaritiman.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.