News Update :

Awas, Insinyur Asing ’Serbu’ Indonesia

Status dan kemandirian profesi insinyur di Indonesia akan memberikan dampak strategis bagi bangsa dalam hal peningkatan daya saing nasional, khususnya dalam menghadapi persaingan global. Persaingan global ini sudah akan hadir tahun 2015, hanya dalam hitungan beberapa bulan lagi dengan diterapkannya ASEAN Economic Community, atau AEC. 

Dari sisi kuantitas, menurut Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Ir. Bobby Gafur Umar, Indonesia punya hampir satu juta orang sarjana teknik dan insinyur.  Mereka berada di seluruh negeri ini dengan konsentrasi terbesar di Jawa. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang diumumkan tahun lalu menunjukkan pada tahun 2025 mendatang negeri ini akan membutuhkan tambahan sekitar 130 ribu insinyur pertahun. 

Lalu pada tahun 2025 sampai 2030, dibutuhkan sedikitnya tambahan 175 ribu insinyur per-tahun untuk mendorong industri dan special economic zone. Dengan diterapkannya AEC, tambahan kebutuhan ini perlu ditangani segera.

Sementara, jika melihat jumlah yang ada sekarang dan kenyataan rendahnya peningkatan tahunan sarjana teknik kita saat ini, kebutuhan tersebut sulit dipenuhi. Akhirnya, potensi insinyur asing untuk mengisi gap yang ada, menjadi besar. Malah menurut Dr. Budhi M. Suyitno, ancaman itu bukan keniscayaan. Insinyur-insinyur dari negara lain dengan mudah masuk ke Indonesia dengan ’membonceng’ lewat proyek-proyek yang didapat negara itu di negeri ini. Ibarat kata, insinyur asing dengan mudah menyerbu Indonesia.

Daya saing insinyur Indonesia sangat tertinggal. Dan tidak ada pilihan lagi kecuali Indonesia perlu kerja keras dan mengejar ketertinggalan dalam membangun kompetensi keinsinyuran menghadapi pasar terbuka ASEAN. Apalagi saat ini pasar Indonesia yang sangat besar hanya menjadi assembling, sementara para insinyur yang memiliki kompetensi belum banyak mendapatkan pengakuan bahkan untuk tingkat ASEAN. Padahal saat ini untuk menjalankan seluruh proyek yang ada di Indonesia, setidaknya dibutuhkan 1,5 juta insinyur.

Rasio jumlah insinyur Indonesia saat ini juga masih sangat kurang atau sedikit dibandingkan negara lain di kawasan Asia. Indonesia hanya punya kurang dari 200 orang insinyur per satu juta penduduk.
Yang mengkhawatirkan, belakangan ini minat para siswa lulusan sekolah lanjutan untuk meneruskan pendidikan di bidang studi keinsiyuran, menurun. “Kita hanya punya sarjana teknik sebanyak hampir 1 juta orang, atau kira-kira sekitar 11 persen dari total sarjana sementara idealnya adalah 20 persen dari seluruh sarjana.”

Jika dibandingkan dengan tetangga terdekat Malaysia, misalnya, rasio antara insinyur dan seluruh sarjana lulusan perguruan tinggi disana mencapai 50 persen. Mereka punya 13 juta sarjana teknik dari total 27 juta pemegang gelar sarjana.

“Adalah tugas kita sebagai insinyur, perekayasa, praktisi keinsinyuran dan teknologi di Indonesia untuk turut berperan dalam membangun bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Adalah juga peran penting BKM serta perguruan tinggi teknik mesin yang bernaung dalam koordinasi BKM-PII, untuk menjadi salah satu simpul kekuatan kemandirian insinyur Indonesia, yang akan memberikan dampak strategis bagi bangsa, khususnya dalam menghadapi tantangan global,” pinta ketua umum PII itu.
Urai kata Bobby Gafur Umar diutarakan pada pembukaan Konvensi Nasional  Badan Kejuruan Mesin Persatuan Insinyur Indonesia (BKM-PII) IX 2014 dengan mengangkat topik ‘Inovasi Keinsinyuran Menuju Kedaulatan Bangsa Berwawasan Teknologi dan Lingkungan’. Konvensi nasional selama dua hari sejak 22 Oktober digelar di Auditrorium Bidakarna, Bidakara, Jakarta.
Karenanya dengan sumber daya dan potensi bangsa demikian luar biasa maka para insinyur perlu memikirkan bagaimana kita bisa berperan secara lebih aktif dan terukur, dalam berusaha membantu memajukan bangsa. 

“Bangun keunggulan dan kemandirian nasional, dalam menghasilkan karya-karya bidang engineering yang berkualitas.  Karya-karya yang bernilai tambah bagi masyarakat.  Kunci dari semua ini adalah penguasaan Iptek dan pelaksanaan keinsinyuran yang andal dan profesional di segala bidang, yang dilakukan dalam koridor tata-kelola yang baik, beretika dan berintegritas,” Bobby berharap.
Konvensi, menurut Prof. Dr. Ir. Tresna P. Soemardi, SE, MS sebagai Ketua Umum BKM-PII yang baru, seiring dengan dilaksanakannya program penting PII. Rangkaian kegiatan terkait hadirnya Undang-Undang Keinsinyuran Indonesia.  Tahap lanjutan yang terkait dengan lahirnya undang-undang itu, antara lain adalah proses penyusunan peraturan pemerintah dan perangkat teknis lain yang merupakan produk turunan dari undang-undang tersebut.

Namun secara kelembagaan, PII juga perlu merevisi konten dari AD/ART untuk bisa selaras dengan isi dari undang-undang tersebut. Juga sebagai salah satu program tindak lanjut, adalah kegiatan sosialisasi atau pengenalan dan pemahaman atas UU Nomor 11 tahun 2014 kepada seluruh stakeholder keinsinyuran.

Mantan Ketua Umum BKM-PII Dr. Budhi M. Suyitno juga mengaku, sebagai sebuah unit profesi keteknikan khususnya teknik mesin dil ingkungan PII, BKM juga menjadi salah satu stakeholder keinsinyuran.  Jadi, sudah seharusnya jika UU Keinsinyuran yang disahkan di DPR RI pada awal tahun 2014 ini juga dipahami, diterapkan dan disosialisasikan dengan baik oleh setiap unsur di BKM-PII. Meski harus pula menunggu penetapan Peraturan Pemerintah (PP).

PII berekspektasi, bahwa UU Keinsinyuran ini dapat diakselerasi kepada seluruh insan perekayasa di Indonesia dengan maksimal. Harapannya, kemandirian kita sebagai perekayasa dapat terjamin melalui aspek teknis, ekonomi, hukum dan juga aspek remunerasi bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat luas.

Melalui instrumen yang terkandung di dalam UU Keinsinyuran, PII membantu memberikan ruang seluas-luasnya bagi semua perekayasa di Indonesia dalam hal sertifikasi insinyur profesional.  Karenanya, PII secara khusus akan berupaya mendukung setiap upaya yang dilakukan oleh semua komponen keinsinyuran, khususnya yang ada di dalam PII, untuk peningkatan status setiap perekayasa di Indonesia.

Harapannya, semua sarjana teknik dan perekayasa kelak akan menyandang gelar ’Insinyur Profesional’ sesuai dengan kiprah dan prestasinya.  Secara khusus, PP PII siap memfasilitasi dan mendukung BKM dalam pelaksanaan seluruh program harmonisasi kurikulum teknik mesin. *Utje (Restorasi News) Foto: Utje
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.