News Update :

Diskusi Teknik Analisis Biaya Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung

Pada tanggal 26 November 2008 Pusat Litbang Pemukiman Balitbang Departemen Pekerjaan Umum, menyelenggarakan diskusi teknik bertajuk “Analisis Biaya Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung”.

Ada lima makalah yang dipresentasikan dalam diskusi yang diselenggarakan di Sapta Taruna, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.


Dr. Ir. Hendrawan, Ketua Tim Penasehan Instalasi dan Perlengkapan Bangunan (TPIB), yang  sebagai Staf Pengajar di Departemen Teknik Mesin dan Kedirgantaraan ITB mempersembahkan sebuah topik bahasan yang berjudul ; “Regulasi Terkait Buiding Fire Safety”. 

Sekretaris Jenderal BKM-PII Ir. Soekartono Soewarno, IPM menyampaikan makalah dengan topik; “Pertimbangan-pertimbangan dalam Perencanaan Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung”.

Makalah ke tiga yang disampaikan oleh Ir. Nugraha Budi R, MSc berjudul ; “Analisis Biaya Proteksi Kebakaran”.

Sedangkan Ir. Wahyu Sujatmiko, MT dari Balai Sains Bangunan Puslitbang Pemukiman PU, menyampaikan makalahnya dengan topik “Disain Proteksi kebakaran berbasis Kinerja Kondisi Saat Ini dan Tantangan ke Depan”.

Sementara itu di sesi kedua, tampil Petrus Siregar dengan topik “Peran Asuransi dalam penjaminan bangunan Gedung; Mitigasi “Fire Loses dan Biaya Premi”.

Dr. Ir. Hendrawan dalam paparannya menyampaikan bahwa “regulasi bahaya kebakaran menyangkut peralatan pencegah dan penanggulangan kebakaran, personil dan sisi pengelolaannya”. “Karena menyangkut kepentingan umum, regulasi ditetapkan dan diselenggarakan oleh pemerintah, termasuk pengawasannya”. “Regulasi di setiap daerah mungkin berbeda walaupun harus tetap mengacu pada peraturan dan undang-undang yang lebih tinggi”.“Regulasi di tingkat terendah diselenggarakan oleh pengelola bangunan, berupa petunjuk teknis operasi dan perawatan peralatan pencegah dan pemadaman kebakaran”. Disampaikan juga bahwa “regulasi diperlukan juga oleh badan penjamin terhadap bahaya kebakaran, seperti badan-badan penyelenggara asuransi .

Lebih jauh beliau menyampaikan; “apabila melihat pelaksanaan regulasi di DKI Jakarta, mengingat begitu kompleksitas regulasi jika dibandingkan dengan daerah di luar Jakarta, karena banyaknya gedung-gedung tinggi, pemukiman yang begitu padat, maka regulasi begitu cepat menjadi usang, walaupun demikian di tahun 2008 Pemda DKI telah berhasil memperbaharui Perda tentang bahaya kebakaran”.

“Dari segi pengawasan terhadap pendirian bangunan, pada tahap perencanaan dan perancangan dilakukan oleh Tim Penasehat Teknis Arsitektur Perkotaan dan Bangunan (TPTAPB) yang anggotanya terdiri dari ahli-ahli professional independent dan perwakilan dari disiplin terkait dari Pemda DKI (DPRD, Pemda, Dinas Pemadam Kebakaran dan P2B).

Ir. Soekartono dalam paparanya menjelaskan bahwa ; “kebakaran merupakan sifat proses oksidasi cepat yang disertai oleh evolusi panas, cahaya, nyala dan mengeluarkan suara”. “Tiga unsur utama penyebab kebakaran adalah bahan bakar, oksigen dan panas yang membentuk segitiga kebakaran dibutuhkan untuk memulai suatu kebakaran”. “Proses oksidasi tidak mungkin terjadi tanpa salah satu dari unsur ini”. “jadi prinsip pemadaman api atau pengendalian adalah melepaskan salah satu unsur dari segitiga kebakaran”. “Mengurangi pasokan  oksigen, temperatur, bahan bakar dan lain lain adalah satu cara yang dapat diterima sebagai sasaran pemadaman”.

Mengenai sarana penyelamatan Ir. Soekartono menjelaskan bahwa, “semua bangunan sebaiknya dirancang sehingga penghuni dapat menyelamatkan diri jika terjadi kebakaran”. “Untuk memenuhi persyaratan, penting untuk memastikan bahwa jalur penyelamatan kapasitas dan jumlahnya cukup, jarak tempuh terbatas dan dapat diterima, diproteksi dari kebakaran dan asap, dan diterangi tanda arahnya dengan kalimat yang sesuai dengan negaranya”.

Ir. Nugraha Budi R, MSc dalam makalahnya dijelaskan bahwa, “penelitian tahun 2007 menunjukan adanya anomali penganggaran (pembiayaan) komponen proteksi bangunan terhadap bahaya kebakaran”. “Angka yang diperoleh, khususnya untuk biaya proteksi kebakaran, justru menunjukan presentasi yang lebih kecil dari yang ditetapkan”. “diduga hal ini disebabkan karena digunakannya komponen system proteksi kebakaran yang non-standar, non-sertified atau un-listed”.

Untuk perancangan system proteksi cost effective, Ir. Nugraha Budi menjelaskan pada makalahnya bahwa, “perkembangan teknik kebakaran telah memungkinkan pelaksanaan analisis resiko kebakaran bangunan dalam menyediakan proteksi kebakaran yang efektif dan efisien (cost effective)”. “Teknik-teknik demikian dapat dianalisa biaya proteksi kebakaran yang efekti, efesien untuk suatu tingkat resiko yang dapat diterima (acceptable risk level)”.

“Teknik statistik berupa teknik pohon kegagalan (fault tree) dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kritikal dari suatu jaringan proses maupun jaringan kerja, sehingga bisa diperkirakan kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran, dan teknik probabilitas digunakan untuk meramalkan terjadinya kebakaran dan meramalkan penyebaran api dan asap kebakaran”. “Selain itu juga digunakan teknik simulasi dengan computer untuk meramalkan pertumbuhan penyebaran api dan asap, demikian pula untuk penyelamatan serta pemadaman kebakaran”.(yesso)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.