News Update :

Mobil Murah Akan Hambat Perkembangan Mobil Listrik Nasional

Mobil Listrik Karya Dasep Ahmadi
Dasep Ahmadi sebagai pencipta mobil listrik Evina mulai menggeliat di 2013 ini. Ahmadi menegaskan sudah siap memproduksi dan menjual mobil listrik karyanya.
Ahmadi menjelaskan, saat ini PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP) yang dipimpinnya sudah siap memproduksi mobil listrik Evina. Dasep menargetkan akan memproduksi sebanyak dua sampai tiga ribu unit sebagai permulaan.

"Tahun ini ada sekitar dua sampai tiga ribu unit yang siap diproduksi. Tahun berikutnya sudah mulai sampai 10 ribu unit," ungkap Dasep Ahmadi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (27/2/2013).

Dasep menjelaskan, mobil listrik ciptaannya saat ini masih terus melakukan pengujian kualitas sebelum sampai benar-benat masuk final produksi. Ahmadi juga akan mengurus izin mobil listrik, dan saat ini sedang memilih pemasok komponen r yang akan ikut dalam produksi mobil listrik.

"Saat ini kami sedang terus melakukan berbagai pengujian, mengurus izin, dan memilih supplier yang akan ikut dalam produksi mobil listrik ini," lanjut Dasep.

Dasep sendiri masih sangat mengharapkan dukungan Pemerintah di berbagai sektor. Support yang bsia dilakukan seperti pembelian atau penyewaan mobil listrik miliknya, untuk digunakan sebagai mobil dinas atau mobil operasional. (okezone.com)

Indonesia, sebagaimana tren di global, sedang keranjingan isu mobil listrik. Terlihat dari beberapa pengembangan yang dilakukan berbagai pihak, mulai Dasep Ahmadi sampai Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Tetapi, ini semua masih dianggap sebagai latah saja, karena perkembangan mobil listrik khususnya di Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kenapa bisa begitu?

Adalah rencana pemerintah yang berniat untuk mengembangkan mobil murah di Indonesia. Mobil murah inilah yang justru akan menghambat perkembangan dari mobil listrik itu sendiri.

"Mobil murah bakal menghambat perkembangan mobil listrik. Apalagi kondisi di Indonesia sekarang, dimana kepemilikan masih lebih penting dari fungsi itu sendiri," papar Franky Supriyadi, dari Center for Innovation Oppurtunities and Development Prasetiya Mulya Bussines School.

Ia mencontohkan, masyarakat Indonesia masih mengedepankan kepemilikan kendaraan sebagai hal terpenting daripada apa yang terdapat pada kendaraan itu sendiri. Teknologi misalnya, itu masih nomor dua.

"Ketika hendak membeli mobil, yang penting bisa terbeli atau tidak? Masalah mobil ini irit BBM atau ramah lingkungan atau tidak, itu nomor dua, yang penting harus memiliki sebuah mobil dulu," ujarnya.

Jadi, bakal selalu ada tarik menarik antara mobil murah dan mobil listrik. Selama mobil listrik belum bisa dijangkau dari segi harga, maka masyarakat akan memilih mobil murah. Inilah yang membuat mobil listrik akan terhambat perkembangannya. (mobil.otomotifnet.com)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.