News Update :

Beralih ke Bahan Bakar Gas



Membengkaknya beban fiskal untuk membiayai anggaran subsidi bahan bakar minyak akhi-akhir ini kembali ramai dibicarakan di berbagai media. Umumnya pembicaraan terfokus pada wacana untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) antara lain ada yang mengusulkan pemerintah segera menaikkan harga BBM bersubsidi dan ada pula yang mengusulkan untuk melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi misalnya dengan menerapkan smart card, pembatasan ukuran silinder kendaraan, dan regionalisasi lokasi SPBU yang menjual BBM bersubsidi, dan sebagainya.

Secara garis besar usulan tersebut diatas dapat dikelompokkan kedalam usulan kebijakan berdasarkan mekanisme pasar yaitu menaikkan harga BBM dan usulan kebijakan non mekanisme pasar berupa penjatahan atau rationing. Dari seluruh wacana yang dikemukakan tersebut solusi menaikkan harga BBM merupakan solusi yang paling efektif untuk mengendalikan konsumsi BBM sekaligus untuk mengurangi beban fiskal bagi membiayai susbsidi BBM. Sedangkan solusi kebijakan non mekanisme pasar berdasarkan teori maupun praktiknya akan memerlukan biaya yang cukup besar dalam pengimplementasiannya dan memiliki moral hazard atau rawan untuk diselewengkan.

Dari simpang siur pembicaraan terkait wacana untuk mengurangi beban fiskal untuk membiayai subsidi BBM,pembicaraan untuk mengalihkan BBM bersubsidi ke gas (Bahan Bakar Gas:BBG atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles:LGV) sebagai bahan bakar kendaraan bermotor hampir tidak terdengar. Padahal diversifikasi bahan bakar kendaraan bermotor ini jika dilakukan bersamaan dengan penaikan harga BBM akan saling mendukung karena konsumen akan memiliki pilihan yaitu membeli BBM dengan harga relatif mahal atau beralih ke gas yang harganya lebih murah.

Kebijakan untuk beralih dari BBM ke gas ini pada dasarnya sudah dirintis pemerintah sejak tahun 1986. Namun setelah 26 tahun dilaksanakan kebijakan ini dapat dikatakan tidak berhasil dan bahkan semakin menurun yang ditandai sampai tahun 2010 semakin berkurangnya jumlah SPBG maupun SPBU yang menyediakan LGV. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah harga BBM yang sangat murah sehingga tidak ada insentif ekonomi bagi pemilik kendaraan untuk beralih ke gas (BBG atau LGV).

Sebagai ilustrasi, pada suatu kesempatan penulis menumpang sebuah taksi yang sudah dilengkapi tabung gas dan converter kit Liquefied Gas for Vehicle (LGV). LGV adalah nama lain dari LPG atau Pertamina menjualnya dengan nama produk Vigas. Menurut sopir taksi yang kami tumpangi tersebut sudah banyak taksi yang dilengkapi peralatan converter kit agar bisa menggunakan LGV atau Vigas. Sewaktu kami tanyakan apakah taxi ini menggunakan LGV? Jawabannya belum Pak. Kenapa? Karena premium murah Pak.

Pendapat sopir taksi ini masuk akal dan benar karena dari sisi volume 1 liter Premium setara dengan 1,27 liter LGV. Harga LGV per liter Rp 3.600,- sehingga harga 1,27 liter LGV = Rp 4.572, sedangkan harga premium sebesar Rp 4.500/liter. Artinya LGV setara premium sedikit lebih mahal dari harga premium sehingga tidak menguntungkan untuk beralih ke LGV. Dengan demikian maka pembagian converter kit bagi kendaraan umum termasuk taksi dapat dikatakan akan sia-sia karena tidak menguntungkan bagi operator kendaraan umum. Selain dari itu premium tersedia disemua SPBU sedangkan LGV hanya ada di 10 SPBU di DKI Jakarta.

Namun demikian bagi taksi kelas mewah yang hanya bisa menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan tinggi banyak yang beralih ke LGV karena secara ekonomis jauh lebih menguntungkan.

Tulisan ini menyoroti permasalahan penggunaan bahan bakar gas (BBG) yang sering juga disebut sebagai Compressed Natural Gas fo Vehicle (CNV) dan LPG yang sering juga disebut sebagai LPG Autogas atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles (LGV) sebagai bahan bakar pengganti bahan bakar minyak terutama bagi kendaraan yang menggunakan bensin premium serta mengajukan usulan kebijakan yang layak untuk ditempuh dimasa yang akan datang sehingga diharapkan tumbuhnya kembali harapan untuk beralih dari BBM ke gas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. 

II. MENGAPA PERLU BERALIH DARI BBM KE LGV 

Menurut data yang dirilis oleh World LP Gas Association (WLPGA) pada tahun 2010 lebih dari 17juta kendaraan bermotor di 53 negara menggunakan LPG sebagai bahan bakar alternatif menggantikan gasoil (bensin) dengan total konsumsi LPG mencapai lebih dari 22,8 juta ton pertahun yang disalurkan melalui lebih dari 57 ribu LPG Filling Station di seluruh dunia.

Turkey, Poland, Korea dan Italy serta Russia merupakan negara-negara pengguna LPG terbesar untuk kendaraan bermotor. Tabel berikut ini menunjukkan tingkat konsumsi LPG dan jumlah kendaraan yang menggunakan LPG serta jumlah stasiun pengisian LPG di beberapa negara.

Tabel 1. Tingkat Konsumsi LGV untuk Kendaraan Bermotor



011013tabel1.jpg 
Australia merupakan negara pengguna LPG perkapita terbesar untuk kendaraan bermotor yaitu mencapai 115 liter perkapita pertahun. Di Australia saat ini sekitar 550 ribu kendaraan bermotor dan 97% taxi menggunakan LPG sebagai bahan bakar. Di Australia LPG untuk kendaraan bermotor didistribusikan oleh lebih dari 3.200 gas station.

Keuntungan penggunaan LPG untuk kendaraan bermotor adalah emisi gas buang yang rendah, biaya bahan bakar yang lebih murah dibanding gasoline dan mesin kendaraan lebih awet.

Dari sisi volume konsumsi LPG rata-rata sekitar 25-28% lebih banyak dibandingkan bensin (gasoline), namun harga pasar eceran LPG perliter di Australia rata-rata 50% dari harga gasoline. Di Turki harga LPG Autogas sekitar 55% dari harga gasoline (RON 95).

Di Indonesia Pertamina melalui beberapa SPBU di Jakarta sudah memasarkan LPG untuk kendaraan bermotor dengan nama produk “vigas”.Vigas merupakan bahan bakar beroktan lebih tinggi dari 98 yang sangat bersih, melebihi Pertamax. Sebagai perbandingan bilangan oktan bensin premium adalah 88 dan bilangan oktan Pertamax adalah 92.

Pada harga minyak mentah USD 75/barrel dan kurs Rp 9.100/USD, harga vigas Pertamina Rp 3.600/liter dan harga bensin premium non subsidi Rp 5.900/liter. Dengan demikian harga retail vigas Pertamina sekitar 60% dari harga bensin premium non subsidi.

Harga LGV dinegara-negara pengguna utama seperti Turkey, Korea, Poland, Italy, Japan dan Australia bervariasi antara 50% sampai 60% dari harga gasoline. Grafik berikut ini menunjukkan perbandingan harga retail LGV terhadap harga retail gasoline di beberapa negara yang sudah menggunakan LGV.

Grafik 1. Perbandingan Harga Retail LGV terhadap Gasoline di Beberapa Negara



011013grafik1.jpg 
Harga retail tersebut diatas didasarkan pada kebijakan perpajakan yang khusus diberlakukan untuk LGV sebagai insentif untuk mendorong konsumen beralih dari BBM ke LGV. Grafik berikut ini menunjukkan insentif perpajakan yang diberikan terhadap LGV dibandingkan tarif pajak yang diberlakukan untuk gasoline (BBM).


Grafik 2. Perbandingan tarif pajak (Excise Tax) antara LGV dan Gasoline di Beberapa Negara



011013grafik2.jpg
Dengan insentif kebijakan perpajakan tersebut diatas, LPG Autogas merupakan satu-satunya bahan bakar alternatif pengganti BBM yang berhasil dan sukses dikembangkan secara global karena penggunaannya sama praktisnya dengan BBM dan harganya lebih murah dibanding BBM.
 

PENGHEMATAN PENGGUNAAN LGV DIBANDING BENSIN PREMIUM (NONSUBSIDI) 

Berikut ini adalah contoh perhitungan penghematan penggunaan LGV dibanding bensin premium (harga non subsidi). Perhitungan ini menggunakan asumsi: (a) ICP =USD 120/barrel; (b) kurs USD 1= Rp 9.200,-; (c) Harga premium = MOPS + Alpha +PPN(10%)+PBBKB(5%)+Margin SPBU(4%); (d)Harga retail LGV = CP Aramco + Alpha+PPN(10%)+PBBKB(5%)+Margin SPBU(4%). 


Tabel 2.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dan kendaraan pribadi
011013tabel1.jpg
Bagi kendaraan yang digunakan untuk travel penghematan lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi kendaraan yang digunakan untuk pribadi nilai penghematan jauh dari mencukupi untuk membeli conversion kit.


Tabel 3.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dan kendaraan pribadi dengan perlakukan tarif pajak khusus untuk LGV PPN sebesar 5% dan PBBKB sebesar 2,5%.

011013tabel3.jpg
Penghematan bagi kendaraan yang digunakan untuk travel jauh lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi penggunaan untuk kendaraan pribadi nilai penghematan masih belum cukup untuk membiayai conversion kit.


Tabel 4.

Perhitungan Penghematan untuk Kendaraan 7 penumpang dengan ukuran mesin 2000 cc yang digunakan sebagai kendaraan travel dengan perlakuan khusus untuk

LGV bebas PPN dan bebas PBBKB

011013tabel4.jpg
Dengan pembebsan PPN dan PBBKB bagi LGV, penghematan bagi kendaraan yang digunakan untuk travel jauh lebih dari cukup untuk membeli conversion kit. Bagi penggunaan untuk kendaraan pribadi nilai penghematan masih belum cukup untuk membiayai conversion kit.

Dari perhitungan penghematan akibat penggunaan LPG sebagai bahan bakar pengganti bensin premium dapat disimpulkan antara lain: 

(1)Mengganti premium dengan LGV (Vigas) sebagai bahan bakar kendaraan bermotor akan menghemat penggunaan BBM dan menghemat pengeluaran biaya untuk bahan bakar (sekitar 20% tergantung besar insentif PPN dan PBBKB); 

(2)Bagi konsumen semakinbesar cc kendaraan semakin besar penghematan. Semakin panjang jarak tempuh kendaraan pertahun semakin besar penghematan, sehingga untuk taksi dan kendaraan travel penggunaan LGV akan sangat menguntungkan;

(3) Bagi konsumen kendaraan pribadi untuk mendorong terjadinya pengalihan dari BBM ke LGV (Vigas) perlu diberikan insentif bebas PPN dan PBBKB sebagaimana dilakukan di negara-negara lain; 

(4)Harga converter kit juga mahal (Rp 9 jt – Rp 10jt) namun untuk kendaraan taksi dan travel biaya ini bisa ditutupi dari penghematan tahun pertama; 

(5)Untuk mendorong penggunaan LGV (Vigas) bagi kendaraan bermotor perlu diikuti dengan penghapusan subsidi harga bensin premium dan pemberian insentif pajak PPN maupun PBBKB untuk LGV (Vigas) serta pemberian insentif bagi pembelian catalytic converter kit LGV (Vigas). Di Australia pemerintah memberikan kebijakan harga khusus untuk catalytic converter; 

(6)Pertamina perlu menambah SPBU yang menyediakan LGV (Vigas) paling tidak di kota-kota besar di P.Jawa dengan harga pasar/keekonomian; 

(7)Subsidi terhadap LGV cukup diberikan atas subsidi PPN dan PBBKB saja sehingga kedepan pemerintah cukup meminta persetujuan DPR terkait pembebasan PPN dan PBBKB saja dan tidak direpotkan oleh urusan menaikkan harga LGV akibat kenaikan harga minyak mentah sebagaimana terjadi selama ini terhadap BBM bersubsidi. 

DAMPAK PENGGUNAAN LGV TERHADAP LINGKUNGAN 

LPG Autogas atau LGV menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih rendah dibandingkan gasoline. LGV memiliki gas buang lebih rendah 20% dibandingkan gasoline.

Dari penelitian yang dilakukan di Australia untuk jarak tempuh 10.000 km/tahun: (a) Kendaraan 4 silinder dengan konsumsi bensin 12 liter/100 km jika menggunakan LGV dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun; (b)Kendaraan 6 silinder dengan konsumsi bensin 15 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 525 kg/tahun; (c)Kendaraan 8 silinder dengan konsumsi bensin 20 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 700 kg/tahun.

Dengan asumsi untuk kendaraan 4 silinder dengan jarak tempuh 10.000 km/tahun dan konsumsi premium 12 liter/100 km (1.200 liter/tahun), jika bahan bakarnya dialihkan dari bensin premium ke LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun.

Jika 10 juta kiloliter bensin premium yang dikonsumsi dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebanyak 3,5 juta ton pertahun. Jika seluruh bensin premium yang dikonsumsi pada tahun 2012 (24,41juta kiloliter) dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebesar 8,5 juta ton pertahun. 

III. Compressed Natural Gas for Vehicle (CNV) atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles (LGV) 

Dalam upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor, sejak tahun 1986 pemerintah merencanakan akan melakukan kebijakan mendorong penggunaan bahan bakar gas (BBG) sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM yaitu CNV(Compressed Natural Gas for Vehicles)sering juga disebut sebagai CNV dan LGV (Liquified Petroleum Gas for Vehicles) atau sering disebut LPG Autogas yang dipopulerkan oleh Pertamina dengan nama Vigas. Kebijakan ini selain bertujuan untuk meningkatkan bauran energi juga untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM serta untuk mengurangi beban fiskal untuk membiayai subsidi harga BBM.

Kebijakan penggunaan BBG ini ternyata mendapatkan reaksi yang beragam dari masyarakat antara lain misalnya dari produsen otomotif. Pihak industri otomotif misalnya masih menunggu kepastian kebijakan yang akan ditempuh pemerintah apakah akan mendorong penggunaan CNV atau LGV. Sikap ini bisa dipahami mengingat jenis converter kit yang akan digunakan berbeda teknologi dan harganya, sehingga kendaraan yang dipasangi converter kit CNV tidak bisa menggunakan LGV dan sebaliknya kendaraan yang dipasangi converter kit untuk LGV tidak bisa menggunakan CNV. Tabel berikut ini menjelaskan perbedaan antara CNV dan LGV termasuk perbedaan dalam penyediaan ukuran tanki gas yang akan dipasang di kendaraan dan infrastruktur yang diperlukan serta kemudahan dan waktu yang diperlukan dalam penyediaan BBG tersebut.


Tabel 5. Perbandingan CNV dan LGV

011013tabel5.jpg
Selain faktor diatas kita juga perlu belajar dari pengalaman negara lain yang sudah lama menggunakan CNV dan/atau LGV sebagai informasi pembanding yang layak untuk dipertimbangkan sebelum kebijakan penggunaan CNV dan/atau LGV ditetapkan. Berdasarkan data 10 negara terbesar yang menggunakan CNV dan/atau LGV sebagian besar hanya menggunakan salah satu jenis bahan bakar gas yaitu CNV atau LGV. Tabel berikut ini memberikan informasi tentang jumlah kendaran pengguna CNV atau LGV pada 10 negara pengguna BBG terbesar.



Tabel 6. Negara-Negara Pengguna CNV dan LGV

011013tabel6.jpg
Dari tabel diatas jelas terlihat hanya 3 negara yang menggunakan CNV dan LGV secara bersamaan yaitu Italy, China dan Thailand. Sedangkan 4 negara pengguna terbesar CNV tidak/belum menggunakan LGV dan sebaliknya 4 negara pengguna LGV terbesar kecuali Italy tidak/belum menggunakan CNV. 

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki sumber gas alam yang cukup berlimpah namun sebagian besar sudah terikat kontrak ekspor jangka panjang maupun untuk kebutuhan domestik seperti untuk pabrik pupuk/petrokimia dan untuk pembangkit listrik sehingga diperlukan waktu paling cepat antara 5 sampai 10 tahun untuk dapat meningkatkan pasokan gas bagi memenuhi kebutuhan transportasi domestik. Selain dari itu juga dibutuhkan pembangunan infrastruktur untuk mengangkut gas dari lapangan produksi ke sentra-sentra konsumen terutama di P. Jawa, Bali dan Sumatera sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan infrastruktur tersebut. Jika pembangunan jaringan perpipaan untuk mengangkut gas tidak dimungkinkan maka perlu dibangun LNG Receiving terminal di sentra-sentra konsumsi gas terutama di P. Jawa dan Bali yang tentunya juga memerlukan waktu yang cukup lama. Dengan kondisi tersebut maka kebijakan penggunaan NGV dalam waktu dekat (sampai 2015) sebagai bahan bakar alternatif bagi kendaraan bermotor akan sangat terbatas sekali karena kendala ketersediaan gas dan ketersediaan infrastruktur sehingga kebijakan ini cocok untuk dikembangkan dalam jangka panjang 10 atau 20 tahun mendatang. Namun sebagai tahap awal kebijakan ini bisa dimulai sesuai dengan ketersediaan gas yang ada dan hanya difokuskan bagi kendaraan umum berukuran besar seperti angkutan bus di wilayah Jabodetabek, Surabaya dsb.

Dari gambaran diatas jelas terlihat bahwa penyediaan bahan bakar alternatif dalam jumlah besar dan waktu yang relatif lebih cepat adalah LGV. Berdasarkan pengalaman negara yang sudah lama menggunakan LGV kiranya perlu disusun perencanaan yang komprehensif mulai dari penyediaan gas LPG, penyediaan converter kit dan tanki LGV untuk kendaraan, sampai pembangunan dispenser LGV di setiap SPBU. Perencanaan tersebut juga memuat insentif kebijakan yang perlu/layak untuk diberikan sebagaimana juga dilakukan oleh negara-negara yang sudah lama menggunakan LGV. 

IV. INSENTIF DAN USULAN KEBIJAKAN UNTUK BERALIH DARI PREMIUM KE LGV 

Berdasarkan pengalaman negara-negara yang sudah sukses mendorong penggunaan CNV dan LGV diperlukan suatu kebijakan yang komprehensif jangka panjang agar kebijakan pengalihan dari BBM ke CNV dan LGV bisa dilaksanakan dengan baik. Kebijakan tersebut antara lain:
  • Insentif fiskal: (1) keringanan pajak penjualan dan bea balik nama kendaraan yang sudah dilengkapi converter kit; (2) keringanan pajak sampai penyediaan secara gratis converter kit; (3) keringanan pajak sampai pembebasan pajak terhadap BBG dan LGV; (4) keringanan biaya pendaftaran kendaraan (BPKB, STNK, Pajak Kendaraan Bermotor) yang sudah dilengkapi converter kit BBG/LGV; (5) depresiasi secara cepat nilai kendaraan komersial yang menggunakan BBG/LGV; (6) keringanan biaya parkir di pinggir jalan bagi kendaraan BBG/LGV;
  • Insentif regulasi antara lain: (1) Mewajibkan semua kendaraan dinas dan kendaraan umum dilengkapi converter kit; (2) Menetapkan standar emisi gas buang yang sangat ketat; (3) membebaskan kendaraan berbahan bakar gas melalui jalan dengan restriksi (seperti jalan three in one);
  • Insentif bagi penelitian dan pengembangan kendaraan berbahan bakar non BBM.
Insentif kebijakan yang mungkin diberikan akan sangat tergantung pada data/statistik kepemilikan kendaraan yang pada dasarnya sudah terdata dengan baik. Dari data ini kemudian ditentukan jenis kendaraan apa saja yang akan diberi insentif pemasangan converter kit berikut tangki LGV dan juga kategori pemilik kendaraan yang layak untuk mendapatkan insentif tersebut. Sebagai bahan pemikiran awal misalnya insentif hanya diberikan kepada keluarga/perorangan yang hanya memiliki 1 (satu) kendaraan dengan ukuran silinder mesin 2000 cc kebawah. Selebihnya keluarga yang memiliki lebih dari satu kendaraan atau memiliki kendaraan dengan ukuran silinder diatas 2000 cc dianggap sebagai keluarga/perorangan yang berkemampuan sehingga tidak diberikan susbsidi.

Untuk mendorong pemilik kendaraan bermotor yang tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk memasang converter kit berikut tangki LGV dikendaraannya, pemerintah bisa memberikan insentif dalam bentuk pengurangan pajak kendaraan bermotor, karena penggunaan LGV memberikan dampak positif terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.Opsi atau pilihan kebijakan penggunaan LGV berikut ini juga dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan di Indonesia:
  • Pemerintah memberikan grants dalam jumlah tertentu untuk biaya konversi kendaraan dari motor bensin/solar ke motor menggunakan vigas. Di Australia grants diberikan bervariasi dari AUS$ 1.000 sampai AUS$ 2.000 per kendaraan. Biaya konversi di Australia berkisar antara AUS$ 2.500 sampai AUS$4.500 per kendaraan.  
  • Pemerintah memberikan pembebasan PPN terhadap harga converter kit dan tangki vigas.
  • Pemerintah memberikan insentif berupa pemotongan biaya pendaftaran kendaraan (BPKB, STNK, Pajak kendaraan bermotor) terhadap kendaraan yang menggunakan vigas. Di Australia Pemerintah memberikan pemotongan sebesar 20%.
  • Pemberian insentif ini diberlakukan dalam kurun waktu tertentu untuk mendorong pemilik kendaraan bermotor melakukan konversi. Setelah batas waktu tersebut tidak diberikan lagi insentif. Di Australia diberikan waktu 2006-2014 dengan jumlah insentif yang semakin menurun.
  • Pemerintah memberikan insentif eco car kepada ATPM termasuk pembuatan kendaraan yang sudah dilengkapi converter kit dan tangki vigas.
  • Pemerintah memberikan insentif berupa pengecualian atau perbedaan tarif PPN dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) terhadap harga jual vigas. Di sisi lain harga bensin premium dan solar diberlakukan harga pasar dan dikenakan PPN dan PBBKB. Di Australia sejak 2006 diberlakukan excise-free untuk LPG Autogas sampai tahun 2011. Untuk gasoline dikenakan excise tax sebesar A$ 38,1 cents/liter.

Program penyediaan LGV ini dilakukan dengan pendekatan wilayah sebagaimana telah dilakukan pada program pengalihan minyak tanah ke LPG seperti misalnya dimulai dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Setelah pembangunan dispenser LGV disetiap SPBU di wilayah tersebut selesai dan LGV sudah terdistribusikan serta pemasangan converter kit berikut tangki LGV bagi pemilik kendaraan bermotor yang layak mendapatkan subsidi selesai dilakukan maka bensin premium RON 88 ditarik dari peredaran dan diganti dengan bensin super RON 90 yang dijual dengan harga keekonomian. Kebijakan mengganti bensin premium 88 dengan bensin super RON 90 dapat menghindari/mengurangi dampak inflasi langsung berupa kenaikan harga BBM karena bensin super RON 90 merupakan produk baru yang sebelumnya tidak diperdagangkan.

Sebagai penutup, penyediaan converter kit berikut tangki LGV bagi pemilik kendaraan yang akan mendapatkan subsidi dariPemerintah seyogyanya disediakan oleh Pemerintah bekerjasama dengan bengkel ATPM, sedangkan untuk pemilik kendaraan lainnya semaksimal mungkin disediakan melalui mekanisme pasar karena cukup banyak produsen converter kit maupun tangki LGV yang mampu menyediakannya dalam jumlah besar seperti produksi Italy, Korea dsb. Tentunya produk tersebut harus memenuhi SNI dan pemasangannya dilakukan oleh bengkel yang memiliki otorisasi agar faktor keselamatan (safety) terjamin dengan baik. 

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Autogas Incentive Policies, country-by-country analysis of why & howgovernments promote Autogas & What Works, World LP Autogas, 2011.
  2. Australian Autogas, Past,Present & Future (Presentation material), James Batchen,LPG Australia, 2011.
  3. Trends in Global LPG Supply & Demand (Presentation material), Purvin & Gertz, Inc, 2008.
  4. LPG (Vigas) sebagai Pengganti Premium untuk Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (Menghemat Pengeluaran Konsumen, Mengurangi Subsidi BBM dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca), Bahan Presentasi, Chairil Abdini, Desember 2011.
  5. LP Gas: An Energy Solutionfor a Low Carbon WorldA Comprehensive Analysis Demonstrating theGreenhouse Gas Reduction Potential of LP Gas, World LP Gas Association, 2007.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Badan Kejuruan Mesin 1976 -2016 | Design by Dewa Yuniardi | Published by Borneo Templates | Powered by Persatuan Insinyur Indonesia.